Tag Archives: travel

Doa Setelah Berkunjung ke Monumen Pancasila Sakti

Image

 

“Genjer-genjer nong kedokan pating keleler
Genjer-genjer nong kedokan pating keleler”

Menyanyikan lagu ‘Genjer-genjer’ pada masa Orde Baru sama dengan bernyanyi untuk menyambut kematian. Ini bukan ungkapan hiperbola, buktinya sang pencipta lagu pun harus mati dibunuh karena lagu tersebut.

Lagu sederhana yang bercerita tentang petani itu diduga sebagai lagu propaganda PKI untuk merubah ideologi Pancasila menjadi ideologi komunis. Ketegangan antara pemerintah sayap kanan dengan PKI yang bersayap kiri memang telah muncul sejak awal kemerdekaan Indonesia, tepatnya pada tahun 1948.

Saat itu terjadi ketegangan antara Blok Barat yang diprakarsai Amerika Serikat (liberal) dengan Blok Timur yang diprakarsai Uni Soviet (komunis). Pemimpin PKI, Musso, bersama dengan mantan Perdana Menteri RI, Amir Sjarifuddin mencurigai kabinet Hatta cenderung berpihak pada Amerika Serikat. PKI khawatir keberpihakan itu dapat membahayakan posisi politik PKI.

Atas dasar kecurigaan, tercetuslah Pemberontakan PKI di Madiun yang menewaskan sejumlah tokoh militer, pejabat pemerintahan, dan tokoh masyarakat. Tak terima dengan perlakuan PKI, TNI pun menyerbu daerah-daerah pertahanan PKI hingga menembak mati Musso pada 31 Oktober 1948.

Sejak saat itu, hubungan PKI dengan TNI bagaikan dua kutub magnet yang saling menolak untuk bersatu di bawah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Puncak perseteruan PKI dan TNI terjadi pada tahun 1965 yang dikenal dengan peristiwa G 30 S PKI. Peristiwa itu menewaskan 7 perwira TNI di Lubang Buaya. Mereka adalah Letjen Ahmad Yani, Mayjen R. Soeprapto, Mayjen M.T Harjono, Mayjen S. Parman, Brigjen D.I Pandjaitan, Brigjen Soetojo S., dan Lettu P.A Tendean.

Image

Untuk mengenang sejarah kelam itu, pemerintah orde baru mendirikan komplek Monumen Pancasila Sakti di tempat pembunuhan 7 perwira tersebut. Komplek terbagi menjadi dua area, yaitu area Museum Pengkhianatan PKI dan area Monumen Pancasila Sakti. Sejarah yang tertulis dan tergambar di seluruh komplek Monumen Pancasila Sakti jelas menyalahkan PKI. Walau begitu, sampai saat ini latar belakang peristiwa pembantaian 7 perwira TNI masih menjadi kontroversi di tengah masyarakat.

Tak adanya kepastian mengenai siapa yang bersalah, siapa yang disalahkan, dan siapa yang terlibat, disebabkan banyaknya dokumen yang hilang. Namun, ada beberapa konspirasi yang terhembus, antara lain menyebutkan bahwa G 30 S merupakan masalah internal militer yang didalangi generasi muda militer. Ada pula yang menyebutkan bahwa Soeharto terlibat di dalamnya dan mengambil keuntungan untuk kepentingan kekuasaan. Namun, yang paling banyak beredar memang menyebutkan PKI mendalangi pembantaian 7  perwira TNI.

Saya sendiri tak ingin ujuk-ujuk membuat asumsi terkait siapa yang benar dan siapa yang salah. Saya hanya bisa berharap jika sejarah yang tertulis di buku-buku sejarah sekolah dasar itu memang telah dibelokkan, maka semoga segera diluruskan. Jika sejarah itu telah lurus, maka tunjukkan bukti penguatnya agar generasi penerus tak sesat memaknai.

Jika saat ini kita memiliki Monumen Pancasila Sakti untuk mengenang 7 perwira TNI yang terbunuh, maka besar harapan saya akan adanya sebuah monumen dan museum yang menceritakan ratusan ribu jiwa rakyat PKI, dituduh PKI, dan di-PKI-kan yang terbunuh raga dan mentalnya pasca keluarnya SK Presiden Soeharto 12 Maret 1966.

Tagged , , , , , , , ,

Pak Supri Ingin Lukisannya Terbang

IMG_4208

 

JAKARTA (19/03) – Sejak Museum Layang-layang berdiri tahun 2003, Pak Supri telah menjadi tour guide sekaligus pengrajin layang-layang di sana. Gaji di bawah UMR dengan jam kerja layaknya orang kantoran (09.00-17.00) tak membuat Pak Supri jenuh dengan pekerjaannya. “Kalau di sini gajinya kecil, tapi saya hobi,” kata pria berumur 43 tahun ini.

Ketertarikan Pak Supri terhadap layang-layang berawal dari kegemarannya melihat makhluk hidup dan benda yang dapat terbang. Ia senang melihat warna-warni kupu-kupu, kegagahan burung elang, serta kemegahan pesawat terbang yang melayang di udara.

Atas dasar itu, Pak Supri bercita-cita menjadi seorang pilot. Ia ingin menerbangkan pesawat dan berkeliling di udara lepas. Namun, orang tuanya tak punya cukup dana untuk menyekolahkan Pak Supri di sekolah penerbangan. Ia pun harus mengubur cita-citanya tersebut.

Tak ingin berlarut-larut menyesali keadaan, Pak Supri banting stir menekuni dunia lukis secara otodidak. Mulanya, Pak Supri hanya dapat melukis burung elang. Namun dengan ketekunan dan disiplin, ia akhirnya dapat melukis beragam objek yang hidup maupun tak hidup.

Kepiawaiannya memegang kuas belum membuat Pak Supri puas. Ia ingin lukisannya dapat terbang dan melayang di udara. Ia pun mencoba belajar hal baru, yaitu membuat layang-layang dan melukis motif untuk layang-layang. Dengan kemauan keras, Pak Supri berhasil membuat layang-layang elang sepanjang 3 meter untuk pertama kalinya.

Suatu hari Pak Supri datang menemui Ibu Endang yang merupakan penggiat layang-layang sekaligus salah satu pendiri Merindo Kite and Gallery, sebuah komunitas bagi para pelayang. Ia berniat menunjukkan karya layang-layang buatannya. Tak dinyana, Ibu Endang kagum melihat karya Pak Supri dan setengah tak percaya bahwa Pak Supri belajar membuat layang-layang itu secara otodidak.

Melalui Ibu Endang, karya Pak Supri dilirik seorang pecinta layang-layang asal Perancis. Orang Perancis itu kemudian memesan layang-layang elang sepanjang 5 meter kepada Pak Supri. Saat itu, Ibu Endang sedang membangun Museum Layang-layang di sebuah lahan kosong di belakang rumahnya. Ibu Endang pun mengajak Pak Supri untuk bekerja di Museum Layang-layang.

Tak pikir panjang, Pak Supri menerima tawaran tersebut dan berdedikasi hingga sekarang. Selain melayani pengunjung museum sebagai tour guide, Pak Supri juga membuat layang-layang untuk diikutkan festival nasional maupun internasional mewakili Merindo Kite. Sejauh ini Pak Supri pernah menginjakkan kaki di Singapura, Malaysia, Belitung, Manado, dan daerah Jawa untuk keperluan festival dan workshop.

Tak heran jika kiprah Pak Supri di dunia pelayang sudah cukup dikenal. Menurutnya, ada saja orang atau lembaga yang memesan layang-layang kepadanya secara personal (tanpa melalui Merindo Kite). Namun, Pak Supri mengaku sering menolak orderan karena diberi waktu singkat. “Saya kalau mengerjakan layang-layang itu detil, saya nggak mau asal-asalan. Makanya kalau ada yang pesan tapi disuruh buru-buru, saya nggak bisa,” jelasnya seraya tertawa kecil.

Berbincang dengan Pak Supri pada hari itu di Museum Layang-layang membuyarkan persepsi negatif saya terhadap dunia kerja. Menjadi robot dari pukul 09.00 hingga 17.00, mengulang pekerjaan yang sama, diarahkan harus berbuat apa, sungguh terdengar seperti tak hidup. Namun ternyata, sepanjang kita bekerja menjadi robot sesuai hobi, mengulang pekerjaan yang sama sesuai dengan hobi, dan selalu bersyukur, kita akan mendapatkan kepuasan tersendiri atas tiap butir keringat yang kita keluarkan. Gaji pokok Pak Supri yang jumlahnya di bawah UMR nyatanya tak membuat ia rajin mengeluh dan menyalahkan hidup.

 

Tagged , , , , , , ,

Warna-warni Museum Layang-layang Indonesia

IMG_3778

Berkunjung ke Museum Layang-layang di Pondok Labu, Jakarta Selatan, membuat saya kembali bangga dengan kebudayaan Indonesia dan kecerdasan nenek moyang kita.

IMG_4099

Saya baru tahu bahwa layang-layang pertama di dunia berasal dari Indonesia, tepatnya dari Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Saat itu masyarakat Pulau Muna menggunakan daun kalope untuk membuat layang-layang sehingga disebut kaghati kalope. Bentuk dan warnanya masih sangat sederhana.

IMG_4087

Seiring berjalannya waktu, layang-layang pun mengalami perkembangan. Ada yang berbentuk hewan 3 dimensi seperti layang-layang ikan koi di atas.

IMG_4095

Ada pula yang berwujud manusia. Salah satu contohnya adalah layang-layang perwujudan Dewi Saraswati dari Bali.

IMG_4104

Di museum ini, layang-layang yang terpampang berasal dari berbagai sumber. Ada yang dibeli, ada juga yang berupa sumbangan. Layang-layang replika museum di atas adalah sumbangan karya Kadek Dwi Armika dari Bali.

IMG_4082

Tak hanya menyimpan layang-layang tradisional dan modern asal Indonesia, Museum Layang-layang juga menyimpan karya-karya yang berasal dari berbagai negara, salah satunya Cina.

IMG_4119

Setelah puas berkeliling museum, pengunjung dapat membuat satu layang-layang sederhana dengan arahan tour guide.

IMG_4201

Hasil karya layang-layang pengunjung dapat dibawa pulang ke rumah sebagai kenang-kenangan.

 
 
Ket:
Waktu Buka : Setiap Hari, jam 09.00-17.00 WIB
Tiket Masuk : 10.000 (termasuk menonton video perlayangan, keliling museum, dan membuat satu layang-layang sederhana)
Tagged , , , , , , , ,

Karena Cuma Raga yang Mati

Image

KETE KESU (28/12/13) – Dua hari berkunjung ke Tana Toraja cukup membuat saya ‘kenyang’ melihat tengkorak. Bukan karena banyaknya jumlah laboratorium biologi di sana, tapi karena kebudayaan masyarakatnya yang unik dalam memaknai kematian. Bagi masyarakat Toraja, kematian merupakan ritual terpenting dan termahal. Proses pemakaman orang yang meninggal dapat berlangsung selama berhari-hari, berbulan-bulan, hingga bertahun-tahun, tergantung kesanggupan keluarga mengumpulkan dana.

Dalam masa itu, jenazah dibungkus kain dan disimpan di tongkonan (rumah adat Toraja). Jika dana sudah terkumpul, keluarga segera melaksanakan ritual pemakaman yang memakan waktu selama beberapa hari. Salah satu agendanya adalah pemotongan tedong bonga’ (kerbau). Untuk satu ekor tedong bonga, keluarga harus merogoh kocek hingga ratusan juta.

Masyarakat Toraja percaya bahwa arwah jenazah memerlukan kepala tedong bonga yang telah terpisah dari badannya untuk sampai ke akhirat. Semakin banyak tedong bonga yang dipotong, maka semakin mudah arwah jenazah sampai ke akhirat. Selain itu, jumlah tedong bonga yang dipotong dapat mengukur tinggi rendahnya kelas sosial seseorang.

Setelah menjalankan semua ritual, keluarga tidak mengubur jenazah seperti yang dilakukan masyarakat Indonesia pada umumnya. Masyarakat Toraja lebih memilih menyimpan jenazah pada batang pohon, batu berukir yang dilubangi, gua-gua, atau tebing. Salah satu lokasi penyimpanan jenazah di Toraja yang paling terkenal dan paling tua adalah Kete Kesu yang terletak di Kota Rantepao, Toraja Utara.

Saya berkunjung ke Kete Kesu pada Desember lalu bertepatan dengan Toraja International Festival 2013. Saat itu banyak wisatawan lokal maupun mancanegara yang datang untuk menyaksikan beragam tarian adat dan nyanyian adat Toraja, berbeda dengan saya yang lebih tertarik mengunjungi gua penyimpanan jenazah.

Ada banyak tengkorak dan peti mati di gua itu. Kabarnya, tengkorak-tengkorak di sana ada yang telah berumur ratusan tahun. Pada beberapa tengkorak, keluarga sengaja meletakkan atribut-atribut yang mencerminkan kehidupan tengkorak tersebut saat masih hidup. Hal ini bertujuan agar para pengunjung dapat mengetahui kisah hidup tiap tengkorak.

Ada tengkorak yang mulutnya dipenuhi rokok. Hal itu menandakan bahwa tengkorak tersebut dulunya adalah seorang perokok dan bahkan meninggal karena rokok. Ada pula tengkorak yang disampingnya diletakkan salib untuk menandakan bahwa dulunya tengkorak itu adalah seorang pemuka agama. Bagi tengkorak yang dulunya merupakan seorang guru, keluarga meletakkan buku-buku pelajaran di sekitar tengkorak tersebut.

IMG_8665

Mengunjungi gua pemakaman di Kete Kesu sore itu kembali mengingatkan saya akan kematian. Bahwa hidup dan mati adalah fase yang pasti dilalui tiap makhluk ciptaan Tuhan. Manusia hanya punya waktu singkat untuk hidup di bumi dan pada akhirnya akan jadi tengkorak yang berbentuk sama. Satu-satunya yang membedakan hanya kenangan dari apa yang pernah ia perbuat. Karena raga bisa mati, tapi nama dan karya akan terus hidup.

Tagged , , , , , , , ,
%d bloggers like this: