Tag Archives: layang-layang

Pak Supri Ingin Lukisannya Terbang

IMG_4208

 

JAKARTA (19/03) – Sejak Museum Layang-layang berdiri tahun 2003, Pak Supri telah menjadi tour guide sekaligus pengrajin layang-layang di sana. Gaji di bawah UMR dengan jam kerja layaknya orang kantoran (09.00-17.00) tak membuat Pak Supri jenuh dengan pekerjaannya. “Kalau di sini gajinya kecil, tapi saya hobi,” kata pria berumur 43 tahun ini.

Ketertarikan Pak Supri terhadap layang-layang berawal dari kegemarannya melihat makhluk hidup dan benda yang dapat terbang. Ia senang melihat warna-warni kupu-kupu, kegagahan burung elang, serta kemegahan pesawat terbang yang melayang di udara.

Atas dasar itu, Pak Supri bercita-cita menjadi seorang pilot. Ia ingin menerbangkan pesawat dan berkeliling di udara lepas. Namun, orang tuanya tak punya cukup dana untuk menyekolahkan Pak Supri di sekolah penerbangan. Ia pun harus mengubur cita-citanya tersebut.

Tak ingin berlarut-larut menyesali keadaan, Pak Supri banting stir menekuni dunia lukis secara otodidak. Mulanya, Pak Supri hanya dapat melukis burung elang. Namun dengan ketekunan dan disiplin, ia akhirnya dapat melukis beragam objek yang hidup maupun tak hidup.

Kepiawaiannya memegang kuas belum membuat Pak Supri puas. Ia ingin lukisannya dapat terbang dan melayang di udara. Ia pun mencoba belajar hal baru, yaitu membuat layang-layang dan melukis motif untuk layang-layang. Dengan kemauan keras, Pak Supri berhasil membuat layang-layang elang sepanjang 3 meter untuk pertama kalinya.

Suatu hari Pak Supri datang menemui Ibu Endang yang merupakan penggiat layang-layang sekaligus salah satu pendiri Merindo Kite and Gallery, sebuah komunitas bagi para pelayang. Ia berniat menunjukkan karya layang-layang buatannya. Tak dinyana, Ibu Endang kagum melihat karya Pak Supri dan setengah tak percaya bahwa Pak Supri belajar membuat layang-layang itu secara otodidak.

Melalui Ibu Endang, karya Pak Supri dilirik seorang pecinta layang-layang asal Perancis. Orang Perancis itu kemudian memesan layang-layang elang sepanjang 5 meter kepada Pak Supri. Saat itu, Ibu Endang sedang membangun Museum Layang-layang di sebuah lahan kosong di belakang rumahnya. Ibu Endang pun mengajak Pak Supri untuk bekerja di Museum Layang-layang.

Tak pikir panjang, Pak Supri menerima tawaran tersebut dan berdedikasi hingga sekarang. Selain melayani pengunjung museum sebagai tour guide, Pak Supri juga membuat layang-layang untuk diikutkan festival nasional maupun internasional mewakili Merindo Kite. Sejauh ini Pak Supri pernah menginjakkan kaki di Singapura, Malaysia, Belitung, Manado, dan daerah Jawa untuk keperluan festival dan workshop.

Tak heran jika kiprah Pak Supri di dunia pelayang sudah cukup dikenal. Menurutnya, ada saja orang atau lembaga yang memesan layang-layang kepadanya secara personal (tanpa melalui Merindo Kite). Namun, Pak Supri mengaku sering menolak orderan karena diberi waktu singkat. “Saya kalau mengerjakan layang-layang itu detil, saya nggak mau asal-asalan. Makanya kalau ada yang pesan tapi disuruh buru-buru, saya nggak bisa,” jelasnya seraya tertawa kecil.

Berbincang dengan Pak Supri pada hari itu di Museum Layang-layang membuyarkan persepsi negatif saya terhadap dunia kerja. Menjadi robot dari pukul 09.00 hingga 17.00, mengulang pekerjaan yang sama, diarahkan harus berbuat apa, sungguh terdengar seperti tak hidup. Namun ternyata, sepanjang kita bekerja menjadi robot sesuai hobi, mengulang pekerjaan yang sama sesuai dengan hobi, dan selalu bersyukur, kita akan mendapatkan kepuasan tersendiri atas tiap butir keringat yang kita keluarkan. Gaji pokok Pak Supri yang jumlahnya di bawah UMR nyatanya tak membuat ia rajin mengeluh dan menyalahkan hidup.

 

Tagged , , , , , , ,

Warna-warni Museum Layang-layang Indonesia

IMG_3778

Berkunjung ke Museum Layang-layang di Pondok Labu, Jakarta Selatan, membuat saya kembali bangga dengan kebudayaan Indonesia dan kecerdasan nenek moyang kita.

IMG_4099

Saya baru tahu bahwa layang-layang pertama di dunia berasal dari Indonesia, tepatnya dari Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Saat itu masyarakat Pulau Muna menggunakan daun kalope untuk membuat layang-layang sehingga disebut kaghati kalope. Bentuk dan warnanya masih sangat sederhana.

IMG_4087

Seiring berjalannya waktu, layang-layang pun mengalami perkembangan. Ada yang berbentuk hewan 3 dimensi seperti layang-layang ikan koi di atas.

IMG_4095

Ada pula yang berwujud manusia. Salah satu contohnya adalah layang-layang perwujudan Dewi Saraswati dari Bali.

IMG_4104

Di museum ini, layang-layang yang terpampang berasal dari berbagai sumber. Ada yang dibeli, ada juga yang berupa sumbangan. Layang-layang replika museum di atas adalah sumbangan karya Kadek Dwi Armika dari Bali.

IMG_4082

Tak hanya menyimpan layang-layang tradisional dan modern asal Indonesia, Museum Layang-layang juga menyimpan karya-karya yang berasal dari berbagai negara, salah satunya Cina.

IMG_4119

Setelah puas berkeliling museum, pengunjung dapat membuat satu layang-layang sederhana dengan arahan tour guide.

IMG_4201

Hasil karya layang-layang pengunjung dapat dibawa pulang ke rumah sebagai kenang-kenangan.

 
 
Ket:
Waktu Buka : Setiap Hari, jam 09.00-17.00 WIB
Tiket Masuk : 10.000 (termasuk menonton video perlayangan, keliling museum, dan membuat satu layang-layang sederhana)
Tagged , , , , , , , ,
%d bloggers like this: