Tag Archives: 1965

Doa Setelah Berkunjung ke Monumen Pancasila Sakti

Image

 

“Genjer-genjer nong kedokan pating keleler
Genjer-genjer nong kedokan pating keleler”

Menyanyikan lagu ‘Genjer-genjer’ pada masa Orde Baru sama dengan bernyanyi untuk menyambut kematian. Ini bukan ungkapan hiperbola, buktinya sang pencipta lagu pun harus mati dibunuh karena lagu tersebut.

Lagu sederhana yang bercerita tentang petani itu diduga sebagai lagu propaganda PKI untuk merubah ideologi Pancasila menjadi ideologi komunis. Ketegangan antara pemerintah sayap kanan dengan PKI yang bersayap kiri memang telah muncul sejak awal kemerdekaan Indonesia, tepatnya pada tahun 1948.

Saat itu terjadi ketegangan antara Blok Barat yang diprakarsai Amerika Serikat (liberal) dengan Blok Timur yang diprakarsai Uni Soviet (komunis). Pemimpin PKI, Musso, bersama dengan mantan Perdana Menteri RI, Amir Sjarifuddin mencurigai kabinet Hatta cenderung berpihak pada Amerika Serikat. PKI khawatir keberpihakan itu dapat membahayakan posisi politik PKI.

Atas dasar kecurigaan, tercetuslah Pemberontakan PKI di Madiun yang menewaskan sejumlah tokoh militer, pejabat pemerintahan, dan tokoh masyarakat. Tak terima dengan perlakuan PKI, TNI pun menyerbu daerah-daerah pertahanan PKI hingga menembak mati Musso pada 31 Oktober 1948.

Sejak saat itu, hubungan PKI dengan TNI bagaikan dua kutub magnet yang saling menolak untuk bersatu di bawah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Puncak perseteruan PKI dan TNI terjadi pada tahun 1965 yang dikenal dengan peristiwa G 30 S PKI. Peristiwa itu menewaskan 7 perwira TNI di Lubang Buaya. Mereka adalah Letjen Ahmad Yani, Mayjen R. Soeprapto, Mayjen M.T Harjono, Mayjen S. Parman, Brigjen D.I Pandjaitan, Brigjen Soetojo S., dan Lettu P.A Tendean.

Image

Untuk mengenang sejarah kelam itu, pemerintah orde baru mendirikan komplek Monumen Pancasila Sakti di tempat pembunuhan 7 perwira tersebut. Komplek terbagi menjadi dua area, yaitu area Museum Pengkhianatan PKI dan area Monumen Pancasila Sakti. Sejarah yang tertulis dan tergambar di seluruh komplek Monumen Pancasila Sakti jelas menyalahkan PKI. Walau begitu, sampai saat ini latar belakang peristiwa pembantaian 7 perwira TNI masih menjadi kontroversi di tengah masyarakat.

Tak adanya kepastian mengenai siapa yang bersalah, siapa yang disalahkan, dan siapa yang terlibat, disebabkan banyaknya dokumen yang hilang. Namun, ada beberapa konspirasi yang terhembus, antara lain menyebutkan bahwa G 30 S merupakan masalah internal militer yang didalangi generasi muda militer. Ada pula yang menyebutkan bahwa Soeharto terlibat di dalamnya dan mengambil keuntungan untuk kepentingan kekuasaan. Namun, yang paling banyak beredar memang menyebutkan PKI mendalangi pembantaian 7  perwira TNI.

Saya sendiri tak ingin ujuk-ujuk membuat asumsi terkait siapa yang benar dan siapa yang salah. Saya hanya bisa berharap jika sejarah yang tertulis di buku-buku sejarah sekolah dasar itu memang telah dibelokkan, maka semoga segera diluruskan. Jika sejarah itu telah lurus, maka tunjukkan bukti penguatnya agar generasi penerus tak sesat memaknai.

Jika saat ini kita memiliki Monumen Pancasila Sakti untuk mengenang 7 perwira TNI yang terbunuh, maka besar harapan saya akan adanya sebuah monumen dan museum yang menceritakan ratusan ribu jiwa rakyat PKI, dituduh PKI, dan di-PKI-kan yang terbunuh raga dan mentalnya pasca keluarnya SK Presiden Soeharto 12 Maret 1966.

Tagged , , , , , , , ,
%d bloggers like this: