Ziarah ke Situs Penyimpanan Jenazah Kete Kesu

IMG_8668

Pemandangan rerumputan hijau bercampur udara segar pegunungan menyambut kedatangan saya di Kete Kesu sore itu.

IMG_8667

Saya datang ke Kete Kesu untuk mengunjungi gua penyimpanan jenazah tertua di Tana Toraja

IMG_8683

Untuk sampai ke gua, saya harus melewati tebing yang cukup curam. Di sepanjang perjalanan, terdapat beberapa peti jenazah yang digantung. Hal ini menandakan jenazah di dalam peti masih baru.

IMG_8685

Sedangkan yang terletak di atas kayu dan berwujud tengkorak adalah jenazah yang sudah lama disimpan. Bahkan ada beberapa yang berumur ratusan tahun.

IMG_8647

Setelah kurang lebih 20 menit mendaki, saya pun sampai di gua. Banyak keluarga jenazah dan wisatawan yang berziarah pada hari itu. Setiap jenazah menyimpan beragam kisah yang dapat menjadi inspirasi atau peringatan.

Tagged , , , , , , ,

Chum Mey: Dipenjara karena Jadi Mekanik

Gambar

PHNOM PENH (15/1) – Saya bertemu Chum Mey di pekarangan Museum Tuol Sleng Januari lalu. Saat itu ia sedang duduk di kursi kayu mengenakan kemeja putih berlengan pendek. Banyak pengunjung museum mengerumuninya. Saya penasaran dan ikut bergabung dengan kerumunan tersebut. Ternyata para pengunjung sedang mendengarkan kisah Chum Mey saat menjadi tahanan Penjara Tuol Sleng selama kurang lebih 3 tahun.

Rambut putih dan kulit keriput yang menandai ketuaan Chum Mey tak cukup membuat ia lupa bagaimana rasanya menjadi manusia yang diperlakukan lebih rendah daripada binatang. Ditelanjangi, mandi beramai-ramai dengan mengharap air yang sesekali diguyur dari balik sel, makan tak tentu, serta tidur di bilik yang lebih kecil dan kotor daripada WC umum, masih teringat jelas dalam ingatannya.

Walau begitu, Chum Mey mengaku beruntung karena berhasil lolos dan masih bisa merasakan segarnya hawa kebebasan hingga saat ini di umurnya yang ke 83. Lain halnya dengan kebanyakan tahanan Tuol Sleng yang berakhir dibunuh di Killing Field setelah kenyang siksaan.

Tuol Sleng menyimpan kenangan pahit yang menyisakan luka hingga sekarang. Bekas penjara yang saat ini berfungsi sebagai museum tersebut adalah saksi bisu penyiksaan massal yang terjadi sepanjang tahun 1975-1979 di bawah kepemimpinan Pol Pot. Hasilnya, lebih dari 12.000 penduduk menjadi tahanan ‘tanpa dosa’, seperti yang dialami Chum Mey.

Sampai hari ini Chum Mey tak tahu apa kesalahan yang membuat ia dan keluarganya ditahan dan disiksa. Ia hanya seorang perantau dari desa yang datang ke Kota Phnom Penh dan bekerja sebagai seorang mekanik sesuai cita-citanya sedari kecil.

Kesialannya berawal pada suatu malam saat para Khmer Rouge (pasukan Pol Pot) menyisir kota Phnom Penh dan membawa orang-orang di sana tanpa basa-basi, termasuk Chum Mey dan keluarganya. Ternyata mereka dibawa ke Penjara Tuol Sleng  untuk dievakuasi.

Sejak saat itu hidup Chum Mey berubah. Hari-hari ia lalui dengan penuh siksaan. Chum Mey berkali-kali diinterogasi dengan pertanyaan yang sama. Seperti pedang bermata dua, setiap jawaban yang ia berikan selalu salah dan menghasilkan siksaan yang sama. Dari mulai penyetruman, perendaman di air dingin selama berjam-jam, pencabutan kuku dari jari, hingga cambukan beratus-ratus kali.

Penderitaan Chum Mey bertambah ketika harus kehilangan istri dan anaknya. Para Khmer Rouge menembak istri Chum Mey di depan matanya. Ia masih ingat bagaimana suara tembakan berbaur dengan suara tangisan anaknya yang masih balita. Chum Mey berhasil menyelamatkan diri pada saat itu dan membuatnya hidup hingga sekarang.

Sebagai tahanan yang selamat, Chum Mey merasa wajib menyampaikan kisah penyiksaan di Penjara Tuol Sleng kepada semua orang. Ia menulis sebuah autobiografi berjudul “Survivor”. Hal ini bukan berarti ia dendam dan membenci orang-orang yang menyiksanya. Menurutnya, orang-orang yang menyiksanya juga merasakan penderitaan yang sama karena harus menyiksa berdasarkan perintah atasan, bukan berdasarkan keinginan pribadi.

Chum Mey percaya pada satu nasihat bijak Kamboja yang berbunyi, “If a mad dog bites you, don’t bite it back. If you do, it means you are mad, too.”

Tagged , , , , , , , , ,

Cerita dari Museum Tuol Sleng

Gambar

Pertama kali menginjakkan kaki di Museum Tuol Sleng, mata saya tertuju pada 10 butir peraturan utama yang berlaku bagi para tahanan penjara Tuol Sleng (1975-1979). Salah satu peraturannya berbunyi “while getting lashes or electrification, you must not cry at all”

Gambar

Kemudian di sisi kiri, saya melihat sebuah bagunan tua berwarna putih. Bangunan ini dulunya dinamakan Bangunan A Penjara Tuol Sleng. Fungsinya adalah sebagai sel penjara sekaligus tempat interogasi dan evakuasi bagi para tahanan.

Gambar

Di setiap gedung terdapat koridor. Para petugas penjara sering mengawasi gerak-gerik para tahanan dari koridor ini. Bagi yang gerak-geriknya mencurigakan akan langsung mendapat hukuman.

Gambar

Saat ini gedung A berfungsi sebagai tempat pengarsipan foto yang menggambarkan keadaan para tahanan setelah disiksa.

Gambar

Di sudut ini terpampang foto-foto selebriti dan tokoh-tokoh terkenal lainnya yang turut menjadi tahanan Penjara Tuol Sleng.

Gambar

Seorang bayi yang belum bisa bicara pun harus ikut bersama ibunya menjadi tahanan.

Tagged , , , , , ,
%d bloggers like this: