Karena Cuma Raga yang Mati

Image

KETE KESU (28/12/13) – Dua hari berkunjung ke Tana Toraja cukup membuat saya ‘kenyang’ melihat tengkorak. Bukan karena banyaknya jumlah laboratorium biologi di sana, tapi karena kebudayaan masyarakatnya yang unik dalam memaknai kematian. Bagi masyarakat Toraja, kematian merupakan ritual terpenting dan termahal. Proses pemakaman orang yang meninggal dapat berlangsung selama berhari-hari, berbulan-bulan, hingga bertahun-tahun, tergantung kesanggupan keluarga mengumpulkan dana.

Dalam masa itu, jenazah dibungkus kain dan disimpan di tongkonan (rumah adat Toraja). Jika dana sudah terkumpul, keluarga segera melaksanakan ritual pemakaman yang memakan waktu selama beberapa hari. Salah satu agendanya adalah pemotongan tedong bonga’ (kerbau). Untuk satu ekor tedong bonga, keluarga harus merogoh kocek hingga ratusan juta.

Masyarakat Toraja percaya bahwa arwah jenazah memerlukan kepala tedong bonga yang telah terpisah dari badannya untuk sampai ke akhirat. Semakin banyak tedong bonga yang dipotong, maka semakin mudah arwah jenazah sampai ke akhirat. Selain itu, jumlah tedong bonga yang dipotong dapat mengukur tinggi rendahnya kelas sosial seseorang.

Setelah menjalankan semua ritual, keluarga tidak mengubur jenazah seperti yang dilakukan masyarakat Indonesia pada umumnya. Masyarakat Toraja lebih memilih menyimpan jenazah pada batang pohon, batu berukir yang dilubangi, gua-gua, atau tebing. Salah satu lokasi penyimpanan jenazah di Toraja yang paling terkenal dan paling tua adalah Kete Kesu yang terletak di Kota Rantepao, Toraja Utara.

Saya berkunjung ke Kete Kesu pada Desember lalu bertepatan dengan Toraja International Festival 2013. Saat itu banyak wisatawan lokal maupun mancanegara yang datang untuk menyaksikan beragam tarian adat dan nyanyian adat Toraja, berbeda dengan saya yang lebih tertarik mengunjungi gua penyimpanan jenazah.

Ada banyak tengkorak dan peti mati di gua itu. Kabarnya, tengkorak-tengkorak di sana ada yang telah berumur ratusan tahun. Pada beberapa tengkorak, keluarga sengaja meletakkan atribut-atribut yang mencerminkan kehidupan tengkorak tersebut saat masih hidup. Hal ini bertujuan agar para pengunjung dapat mengetahui kisah hidup tiap tengkorak.

Ada tengkorak yang mulutnya dipenuhi rokok. Hal itu menandakan bahwa tengkorak tersebut dulunya adalah seorang perokok dan bahkan meninggal karena rokok. Ada pula tengkorak yang disampingnya diletakkan salib untuk menandakan bahwa dulunya tengkorak itu adalah seorang pemuka agama. Bagi tengkorak yang dulunya merupakan seorang guru, keluarga meletakkan buku-buku pelajaran di sekitar tengkorak tersebut.

IMG_8665

Mengunjungi gua pemakaman di Kete Kesu sore itu kembali mengingatkan saya akan kematian. Bahwa hidup dan mati adalah fase yang pasti dilalui tiap makhluk ciptaan Tuhan. Manusia hanya punya waktu singkat untuk hidup di bumi dan pada akhirnya akan jadi tengkorak yang berbentuk sama. Satu-satunya yang membedakan hanya kenangan dari apa yang pernah ia perbuat. Karena raga bisa mati, tapi nama dan karya akan terus hidup.

Advertisements
Tagged , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: